PGMKSBM

A. Presentasi PGMBP
1. PGMSCM Cerdas

Sebagaimana diuraikan pada Bab IV halaman 72, tampaknya alasan utama diselenggarakannya PGMKSBM adalah banyaknya guru SD/MI yang aktif mengajar namun belum mencapai kualifikasi D2. Sementara itu, pelaksanaan program pemerataan guru yang disponsori pemerintah baru mampu menjangkau 331.000 guru, dan sekitar 600.000 guru lainnya masih belum memenuhi kualifikasi D2. Guru yang aktif mengajar dan tidak memenuhi kualifikasi ini cenderung meninggalkan kelas untuk berpartisipasi dalam program pengembangan profesional pendidikan reguler. Oleh karena itu, perlu ditemukan inovasi lain dalam mengajar di mana mereka dapat meningkatkan keterampilan mereka tanpa meninggalkan kelas. Faktor ini merupakan inti dari pengenalan inovasi PGMSCM.
Implementasi inovasi PMMSCCM ini tidak menimbulkan kesulitan karena didasarkan pada adanya kerangka hukum (konstitusi) yang memungkinkan program pelatihan alternatif untuk meningkatkan kualifikasi guru. Kerangka hukum tersebut antara lain meliputi Pedoman Kebijakan Umum (PGPG) 1993, Pasal 31 Keputusan Pemerintah Nomor 31. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1992 Tentang Tenaga Kependidikan dan Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 0854/U/1989 dan Kebudayaan 30 Desember 1989, dimana guru SD harus memiliki kualifikasi D2. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, pada tanggal 12 Juni 1996, Universitas Sebelas Maret dan Pusat Studi Lanjutan Guru Sastra Bandung menandatangani nota kesepahaman untuk memperkenalkan model alternatif. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pengembangan guru pendidikan dasar.
Secara konseptual, pelaksanaan PGMKSBM juga bergantung pada kerangka konseptual yang jelas. Sebagaimana ditunjukkan pada Bab IV, empat pendekatan/paradigma yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan PGMKSBM: pendekatan reflektif, pendekatan kolaboratif, pendekatan konstruktivis dan pendekatan eksplorasi tindakan kelas.
Inti dari pendekatan reflektif adalah pembelajaran akan efektif jika didasarkan pada pengalaman yang diperoleh melalui tindakan. Oleh karena itu, alasan di balik pendekatan ini adalah bahwa guru harus memandang pengalaman mengajar sehari-hari sebagai aktivitas untuk menggunakan struktur pemikiran dan pengetahuan yang ada untuk menciptakan pengetahuan baru yang akan mendukung kemampuannya untuk belajar. Pengetahuan atau pemahaman baru ini, melalui elaborasi dan refleksi, dapat mengarah pada tindakan lebih lanjut sebagai latihan rasa ingin tahu. Dengan demikian, proses aktif ini akan terus berlanjut seperti bola salju tanpa henti. Pada akhirnya, hal ini akan mengembangkan profesionalisme guru yang akan terus maju melalui pembelajaran yang berkesinambungan (continuous learning). Oleh karena itu, guru dalam PGMSBMS hendaknya: 1) memecahkan masalah pendidikan dengan menyusun RPP; 2) rencana pembelajaran dievaluasi dan direview bersama teman sejawat; 3) dilakukan dalam situasi nyata dimana guru mengajar. 4) hasil implementasi dievaluasi kembali dan didiskusikan dengan mitra; 5) Berdasarkan hasil pengujian, desain pelatihan ditingkatkan dan siklus ini berlanjut. Melalui proses refleksi ini, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan guru akan meningkat.
Pendekatan kolaboratif adalah membangun saling pengertian dan kesadaran melalui proses berdimensi sosial atau interaksi timbal balik. Implikasi dari paradigma kolaboratif ini, proses pembelajaran PGMKSBM harus memasukkan kegiatan kelompok untuk memecahkan masalah pembelajaran yang sebenarnya. Dengan demikian, dalam suatu kelompok diharapkan terjadi kerjasama antara satu orang dengan orang lain yang saling bergantung satu sama lain untuk memecahkan masalah pembelajaran. Oleh karena itu, dalam PGMKSBM, para peserta harus melakukan pertemuan kelompok secara berkala untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas dan masalah pembelajaran yang mereka hadapi dan melaporkannya dalam bentuk laporan berkala (bulanan). Laporan ini juga menjadi salah satu dasar untuk mengevaluasi hasil belajar.
Pendekatan konstruktivis menjelaskan bahwa pembelajaran akan efektif jika proses mengkonstruksi pengetahuan/pemahaman diarahkan oleh pembelajar. Dalam PGMKSBM, pengetahuan/pemahaman harus dikembangkan dengan mempertimbangkan pengalaman pendidikan guru sehingga guru memiliki kebebasan yang diperlukan untuk menyesuaikan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Implikasi pendekatan konstruktivis terhadap proses pembelajaran BGMBP adalah sebagai berikut: 1) Guru/guru yang pada awalnya bertindak sebagai penyaji materi, tergerak melalui partisipasi aktif dalam proses pembelajaran kolaboratif dengan peserta BGMBP. mediator; 2) transformasi peserta PGMSCM, yang semula dijadikan obyek, menjadi peserta sebagai subyek; dan 3) peserta PGMKSBM yang awalnya pengumpul pengetahuan menjadi inovator dan pengembang pengetahuan.
Pendekatan penelitian tindakan di kelas sebagian besar merupakan hasil dari penggunaan pendekatan refleksif. Dengan kata lain, agar perubahan efektif di tingkat sekolah/kelas, guru (peserta PGMKSBM) harus mengembangkan kapasitas profesionalnya melalui praktik di kelas. Berdasarkan permasalahan sehari-hari, guru (peserta SGMBS) dengan bantuan rekan-rekannya melaksanakan kegiatan berupa RPP, melaksanakan, memantau dan terus menerus memperbaikinya.

2. Sejarah Singkat PGMKSCM
Seperti dijelaskan pada Tabel 6 halaman 78, pendahulu PGMKSBM sebenarnya sudah ada sejak tahun 1994. 1994 Pada bulan September, UNRC mengembangkan model pembaharuan pengajaran yang diakui untuk mendukung profesionalisasi guru melalui forum PKG/KKG dan MGMP di wilayah Pasarcleon. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualifikasi guru yang telah mengajar tetapi tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan. Kerjasama dengan Kementerian Pendidikan belum dipertimbangkan pada tahap ini. Program ini dilakukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang diberikan oleh United Nations Centre for Research and Development. Kantor Wilayah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah memiliki informasi yang terbatas saat itu.
Model penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kolaboratif (PTK) dengan sistem pembelajaran mandiri. Pekerjaan penelitian bersama berarti: 1) setiap guru-anggota tim mengembangkan rencana pelajaran; 2) desain pembelajaran diimplementasikan di kelas dan diamati oleh teman sebaya; 3) hasil observasi didiskusikan dengan rekan sejawat dan pakar (profesor yang diundang) setiap Sabtu sore setelah masa studi berakhir; 4) pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan selama diskusi disajikan sebagai bahan untuk ditelaah; 5) Pemutakhiran materi disampaikan oleh pakar UNS (invited speaker) dengan metode diskusi; 6) Berdasarkan hasil diskusi pada bagian 5, guru menyelesaikan/memperbaiki proyek pelatihan. dan 7) rencana pelajaran ditegakkan kembali di kelas dan ditinjau oleh rekan sejawat. Dan ketujuh langkah ini menjadi siklus yang berulang.
Pada saat yang sama, pada akhir tahun 1995, ketika Pusat Penelitian dan Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan pelatihan guru terakreditasi di wilayah Pasarcleon melalui Pusat Pengembangan Pelatihan Guru Literasi di Bandung, Prof. Dr. Yusufhadi Mierso menjajaki kemungkinan tersebut. bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengeksplorasi model-model inovatif pendidikan berdasarkan sistem pendidikan mandiri. Model pelatihan ini akan membantu melengkapi program kesetaraan D2 bagi 600.000 guru yang belum memenuhi syarat kesetaraan D2 di Indonesia. Program pendidikan saat ini hanya berhasil menjangkau 2.000 guru dan akan memakan waktu 30 tahun untuk merekrut 600.000 guru kecuali jika model pendidikan alternatif ditemukan. Beberapa kali pertemuan dilakukan (lihat Tabel 6), sehingga pada bulan Juni 1996 ditandatangani kesepakatan antara P3GT Bandung dan UNS tentang model pengajaran eksperimental yang disebut Model Pengembangan Guru Terakreditasi (PGTMKSBM) dengan metodologi pengajaran yang terakreditasi. Pada saat itu, pembagian kekuasaan berikut diadopsi. 1) P3GT Bandung sebagai sponsor utama. 2) Puslitbang UNS sebagai model developer; dan 3) ONS FCIP sebagai Pejabat Akreditasi Akademik.
Uji coba tahap I dilakukan dari bulan Februari sampai akhir Juli 1997 dengan 100 peserta dari Jawa Tengah dan 100 dari Jawa Barat. Hasil pengujian tersebut digunakan sebagai masukan untuk perbaikan model. Uji coba tahap II dilakukan dari September 1997 hingga akhir Januari 1998. Uji coba tahap kedua melibatkan sekitar 1.800 peserta yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Sementara uji coba Tahap 2 masih berlangsung, pada tahun 1997 Pada tanggal 3 Agustus, P3GT Biro Agama Daerah Jawa Barat melakukan survei model kualifikasi model pelatihan guru mandiri yang terakreditasi di Bandung. . Penelitian dilakukan di Lembang Bandung. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Biro Agama Daerah Jawa Barat bersama P3GT Bandung mengunjungi NSU untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dalam perluasan modernisasi di lingkungan Departemen Agama Jawa Barat. Akhirnya diputuskan kerjasama antara PBB dan Kanwil Kemenag Jawa Barat sepakat untuk memperluas implementasi modernisasi di wilayah Banten (sekarang provinsi). Kerjasama dengan Kementerian Agama ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru matematika, fisika, biologi dan bahasa Inggris di Madrasah Ibatidaya (D2) dan Madrasah Sanvia (D3).
Pada tahap ini implementasi sudah tidak update lagi, sehingga tidak lagi mempengaruhi P3GT Bandung. Namanya diubah menjadi Model Kompetensi Pendidikan Guru Belajar Mandiri (PGMKSBM). Program D2 dimulai pada September 1997 dan berakhir pada 1999 dengan dua lulusan. Fase pertama dirilis pada 19 Juni 1999, dan fase kedua pada 13 November 1999.
Pelaksanaan proyek D3 dimulai pada bulan Desember 1997 dan berakhir pada tanggal 14 April 2001. Sejak tahun 2001 hingga penelitian ini, kerjasama antara UNS dan P3GT Bandung, Cabang Agama Regional Jawa Barat dan/atau organisasi lainnya masih berlangsung. . Namun karena penelitian ini terbatas pada pelaksanaan PGMKSBM di wilayah Banten, maka sejarah PGMKSBM setelah tahun 2001 tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini.
3. Memahami PGMKSBM
Mengacu pada hasil yang disajikan pada Tabel 5 halaman 69 dan Gambar 3 halaman 70, jelas terlihat bahwa Model Kompetensi Pendidikan Guru Sistem Pendidikan Mandiri (PGMKSBM) adalah tentang inovasi pendidikan yang ditujukan untuk guru dalam jabatan. Produksi, menerima status guru aktif tetapi tidak dapat memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan tanpa dipecat. Dengan pemahaman ini, PGMSCM dapat dianggap sebagai program tempat kerja. Artinya program tersebut tidak berlaku bagi guru yang tidak aktif mengajar. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, terdapat bukti nyata bahwa program PGMKSBM diciptakan oleh guru yang aktif mengajar. Guru-guru aktif mengajar ini mengikuti proses pembelajaran yang disebut PGMKSBM yang mengoptimalkan pengetahuan, pengalaman dan lingkungan bawaan. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja dan hasil belajar guru.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri PGMKSCM adalah sebagai berikut: 1) PGMKSCM bukanlah program pelatihan awal melainkan program pelatihan berkelanjutan; 2) PSMCBM menitikberatkan pada pembelajaran mandiri berupa tugas-tugas yang terintegrasi dengan tugas-tugas pembelajaran sehari-hari di sekolah, bukan full-time; 3) PGMKSBM menggunakan pendekatan penelitian kolaboratif, yaitu integrasi teori ke dalam praktik mengajar sehari-hari; 4) sumber penilaian tidak hanya dari ujian tengah semester dan ujian tengah semester, tetapi juga dari portofolio berupa laporan mingguan dan bulanan; dan 5) teman sebaya dan supervisor menjadi sumber dan mitra belajar.

B. Proses Difusi Inovasi PGMKSBM
Sebagaimana dijelaskan pada Bab II, proses difusi suatu inovasi dapat dilihat dari segi saluran komunikasi, sistem sosial tempat terjadinya difusi, periode terjadinya proses difusi, dan tahap terjadinya inovasi. keputusan dibuat. Tentang adopsi inovasi. Demikian pula, berdasarkan aspek-aspek tersebut, dimungkinkan untuk menggambarkan proses promosi inovasi PGMSCM.

1. Saluran komunikasi, sistem sosial dan waktu
Seperti terlihat pada Tabel 8 di halaman 84, saluran komunikasi yang paling banyak digunakan untuk mempromosikan inovasi PGMSB adalah saluran interpersonal. Bentuk kontak meliputi kunjungan, pertemuan, lokakarya dan seminar. Seperti yang kita lihat di Bab 2, komunikasi antarpribadi adalah sarana komunikasi yang efektif. Tampaknya pendekatan persuasif melalui jalur interpersonal inilah yang mempercepat adopsi PGMKSBM oleh Kemenag Jabar Cabang Regional.
Tabel 8 juga menunjukkan bahwa difusi inovasi PGMKSBM terjadi pada tingkat organisasi. Organisasi yang terlibat dalam mempromosikan inovasi meliputi: 1) Universitas Negeri Sebelas Maret dan statusnya; 2) Pusat Pengembangan Guru Penulisan di Bandung; 3) departemen guru dan tenaga teknis (digutentis); 4) Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat; 5) jurusan utama pendidikan dasar dan menengah; 6) pusat pelatihan guru di seluruh Indonesia; 7) Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan 8) Lembaga Pendidikan Tinggi dan Kejuruan Seluruh Indonesia (LPTK). Dengan demikian, jika dilihat dari perspektif sistem sosial, faktor organisasi termasuk “pemimpin opini” yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi oleh PGMKSCM. Hal ini membuktikan kebenaran teori Rogers, yang dijelaskan pada bab kedua, bahwa tingkat organisasi, terutama top-down, mempengaruhi tingkat adopsi suatu inovasi.
Sedangkan seperti terlihat pada Gambar 4 halaman 87, dari segi waktu, PGMKSBM pertama antara UNS dan P3GT Bandung berlangsung selama 4 bulan. Pertemuan pertama Puslitbang UNS dengan P3GT Bandung berlangsung pada Maret 1996 dan penandatanganan kesepakatan kerja sama pada Juni 1996. Namun, proses promosi inovasi PGMKSBM antara UNS dan P3GT Bandung untuk kualifikasi guru. D2 setara PGMKSBM, kajian ini belum selesai, masih dalam proses.
Sementara itu, butuh waktu 18 bulan (1,5 tahun) dari Maret 1996 hingga Agustus 1997 untuk menyebarkan penemuan PGMKSBM UNS dan P3GT Bandung di Biro Agama Regional Jawa Barat. Peluncuran PGMKSBM hasil kerjasama UNS, P3GT Bandung dan Wilayah Banten Program D2 dan D3 Kanwil Jawa Barat selesai pada Februari 2001. Sejak tahun 2001, implementasi inovasi PGMKSBM untuk D2 dan D3 bagi guru MI dan MT di Wilayah Banten tidak dilanjutkan (discontinued).

2. tahap keputusan promosi PGMSCM inovasi
Rogers sebagaimana dijelaskan pada Bab Dua menjelaskan bahwa tahapan pengambilan keputusan suatu inovasi terdiri dari 5 tingkatan, yaitu. (1) tahap pengumuman; (2) fase rekonsiliasi; (3) fase redefinisi/restrukturisasi; (4) tindakan klarifikasi; dan (5) langkah rutinisasi. seperti yang ditunjukkan pada gambar. 4 di halaman 87, terlihat jelas bahwa proses difusi inovasi berlangsung di dua organisasi, yaitu (1) antara Puslitbangjari UNS dan P3GT Bandung; dan 2) antara Pusultibangjari UNS dengan Kanwil Kemenag Jawa Barat. Langkah-langkah pengambilan keputusan untuk memperkenalkan inovasi BGMBP di masing-masing lembaga tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
P3GT Bandung PGMKSBM নেওয়ার
P3GT Bandung PGMKSBM PGMKSBM , P3GT Bandung PGMKSBM :
 1: (এজেন্ডা )। P3GT P3GT -এর প্রয়োজনীয়তার দ্বারা যা 600.000 দক্ষতা উন্নত করতে D2 যোগ্য 30 kan , M.Sc., -এ P3GT-এর , P3GT-কে R&D UNS Puslitbangjari UNS গবেষণা দীর্ঘদিন স্বাধীন শিক্ষা , জেলায় (PGMKSBM-এর )।
 2: , аправленные а овлетворение отребности овационных оделях альтернативного образования ентре едований ооок ак о аблицы 6, еча остоялась ажды. ервая еча остоялась 29 арта 1996 . ения озможности отрудничества. орая еча остоялась 26 еля 1996 . ела азработке операционной основы ограммы авнивания D2 емой амообучения. оме ого, ешение о ереходе а одель обновления езависимой емой обучения о о о емя олнения оглаения Bandung
 ап 3: ереопределение/еструктуризация. еструктуризация / ереопределение осуществляется ем анимации еминаров одготовки ебных аккредитационных омплектов. е еминар оведен 18-21 оября 1996 . Результатом семинара стала модель повышения квалификации под названием «Модель повышения квалификации аккредитованного учителя с независимой системой обучения» (PGTMKSBM) вместе с ее инструментами, которые включают: описание учебного плана D2 и учебный план / GBPP для первого семестра. Подготовка Учебные модули проводились с октября по декабрь 1996 года, и в результате были разработаны учебные модули по следующим предметам: образование, естественнонаучное образование, математическое образование 1, социальные науки, образование 1, спорт и здоровье, PPKN 1 и индонезийский язык.
 аг 4: очнение. очнение оводится ем оведения естов. ания азы 1 оводились 1 евраля о 31 1997 . а ападной е ентральной е астием 100 еловек аждом. атем езультаты ервого апа аний ены оработки апреле 1997 ода. о ере ода астников ервого апа аний а орую половину, орой ап аний оводился 1 ентября 1997 ода о 30 аря. , 1998 . от аз аствовало ольшее оличество астников, 1800 еловек, астники азъехались о ентральной и ападной е. осле ого апа он еще е адию.
. апы ешения о едрению оваций PGMKSBM егиональным отделением ерства елигии ападной

адия ешения о ововведения PGMKKSBM егиональным отделением ерства елигии ападной ерешла оследнюю адию, а енно . олее одробное объяснение ожно описать едующим образом:
 аг 1: астройка овестки (настройка овестки ). Объявление программы принятия ПГМКСБМ региональным отделением Министерства по делам религий в ответ произошло в 1997 году, мотивируя это тем, что большинство учителей медресе Ибтидайя (МИ) и медресе Цанавия (МЦ) в ​​​​министерстве религии на Западной Яве не соответствует требованиям D2. атем егиональное отделение ерства елигии ело еобходимость образовательной одели, оторая огла ективно о ействели.
 аг 2: опряжение. ап опоставления осуществляется осредством ействий. августе 1997 ода егиональное о о елам елигий ападной оручило P3GT Bandung овести оценку PGTMKSBM, оторая отируется UNSGT Bandung Эта встреча привела к соглашению о том, что региональное отделение Министерства религии и P3GT Бандунг готовы посетить НГУ, чтобы изучить возможность сотрудничества для расширения модернизации в рамках регионального отделения министерства религии Западной Явы. оследствии, 29 августа 1997 ., осетили егиональное авление о елам елигий ападной P3GT андунг, обы обсудить озможноств отрудниче. езультатом ой ечи ала отовность UNS асширить одернизацию егионального о о елам елигий а ападной е.
 ап 3: ереопределение/еструктуризация. а анном апе есть е ормы ереопределения/структурирования. о-первых, а оведена еструктуризация ограммы D2 ем анализа ограммы амского образования D2 оставления опрания алификационной. а еятельность оходила августа о ентябрь 1997 ода. о-вторых, еструктуризация ограммы D3 о ологии, е, атематике английскому . еструктуризации ограммы 3 аключается одготовке ограммы 3. оведены едующие ероприятия: 1) оведение ервой одготовительной ечи олжностных анджари о одготовке реализации ограции ограри о одготовке реализации ограции 13. 2) ове орое одготовительное овещание о одготовке еминара о одготовке ебного ана ограммы D3 (20 ентября 2003 .); 3) организовать еминар о азработке ебного ана отенциальных авторов омплектов ебных атериалов (27 ентября 1997 .); 4) организация еминаров о одготовке GBPP/Silabi омплектов ебных атериалов (29-30 ентября 1997 .).
 аг 4: очнение. а анный омент ествует апа едрения . о-первых, еализация отного апа 1 ограммы D2 о 100 астников ападной (февраль – 1997 .). о-вторых, огда астники 1-го ания ерешли а орой еместр, 2-е ание ограммы D2 ачало оступать ервый еместр (сеа 1997 . аконец, еализация ервого еместра ограммы D3 (декабрь 1997 . – 1998 .).
 аг 5: одпрограммы. а ом апе одолжаются ограммы D2 D3. 1999 оду е ограммы егиона антен одошли онцу. ако отрудничество ежду UNS Depag астях онезии одолжается. очно ак е одолжается отрудничество ежду P3GT UNS P3GT LPTK астях онезии.

C. еализация PGMKSBM овинции антен
едрение PGMKSBM овинции антен ожно объяснить, ачала обсудив обоснование едрения, ежде ем обсуждать аму еализацию.
1. основание едрения PGMKSBM овинции антен
Как описано в предыдущей главе, ясно, что обоснование внедрения PGMKSBM в провинции Бантен основано на фактах на том основании, что: 1) все еще есть много учителей из медресе Ибтидайя и медресе Цанавия, которые не имеют необходимой квалификации; 2) еля аходятся активном ебном остоянии, оэтому невозможно оставить ебное адание; 3) еподаватели ассредоточены о ескольким айонам али от ов. аблица 9 а анице 95 о оказывает, о олько егентстве андегланг есть 1301 ель едресе айя 1815 елей едресе анавия. еподаватели едресе айя, олучившие алификацию D2 е, остигли олько 3%. альные 97% е оответствовали ебованиям. е ем, елей едресе анавия, олучивших алификацию D3 е, остигли олько 8%, остальные 92% е остигли алификации. аким образом, оличество еподавателей , олучивших алификацию, о-прежнему очень ало, а енно 11%. аким образом, о олучения ограммы еще 89% еподавателей е оответствовали ебуемой алификации. акая е ация, о овам ачальника отдела амского религиозного образования ерстве елигии андегланг егентства (смое . 95),
С другой стороны, в то же время Центр исследований и разработок UNS предлагает инновационную программу, а именно PGMKSBM. Этот PGMKSBM рассматривается Региональным отделением Министерства религии Западной Явы как подходящая инновация, основанная на потребностях, для повышения квалификации учителей MI и MTS. Таким образом, PGMKSBM была принята на стоянку в районе Бантен. См. рис. 4 «Этапы принятия решений о внедрении инноваций» на стр. 87.
2. Внедрение PGMKSBM в провинции Бантен
Реализация PGMKSBM может быть описана с двух сторон, а именно: (1) система обучения; и (2) процесс обучения.
а. Система обучения
Как описано в главе IV на страницах 96 – 107, ясно, что система обучения PGMKSBM Система обучения может быть объяснена пятью компонентами, а именно: 1) цели; 2) цель; 3) учебный план и план структуры программы; 4) учебный материал; 5) система оценки; 6) преподавательский состав; 7) механизм управления ПГМКСКМ; и 8) средства управления PGMKSBM.
PGMKSBM в провинции Бантен был организован с целью помочь правительству улучшить качество образования за счет повышения квалификации учителей. Между тем, цель PGMKSBM - для учителей SD / MI, которые не достигли квалификации D2, и младших учителей / MT, которые не достигли квалификации D3, где эти учителя находятся в активном преподавательском статусе, поэтому невозможно следовать обычному образованию, которое вынуждает им оставить свои повседневные обязанности преподавателя. Это утверждение указывает на то, что PGMKSBM не распространяется на тех, кто активно не преподает или не преподавал (начальное обучение).
Новую программу ПГМКСБМ не разрабатывает. Однако продолжайте использовать или обращаться к обычной программе D2 и D3. Cependant, en référence au curriculum régulier, la structure du programme éducatif est conçue et développée de telle manière en fonction des caractéristiques des participants et du système d'apprentissage autonome.
Les matériels pédagogiques utilisés dans PGMKSBM sont appelés modules d'apprentissage. La trousse d'apprentissage pour chaque cours se compose de deux livres, à savoir : 1) Livres de matériel (BM) ; et 2) Carnet d'Affectation (BT). Le livre de matériel (BM) contient des données et / ou des concepts liés aux cours et à la manière de les enseigner aux étudiants. Le cahier d'affectation (BT) contient des tâches indépendantes pour les individus et les groupes. En tant que guide d'étude, les participants reçoivent également un manuel d'apprentissage général (PUP). PUP est compilé sur la base du programme d'études et contient: 1) Liste des distributions de cours; 2) Brève description de chaque cours ; et 3) Lignes directrices pour la mise en œuvre de l'apprentissage et l'amélioration de la capacité d'enseignement.
Le système d'évaluation PGMKSBM peut être classé en six groupes : 1) évaluation des résultats d'apprentissage indépendants individuels sous la forme d'un rapport sur les résultats d'apprentissage individuels (LHP1) ; 2) évaluation des résultats d'apprentissage indépendants en groupes sous la forme d'un rapport sur les résultats d'apprentissage de groupe (LHP2) ; 3) évaluation des résultats de l'amélioration des capacités d'enseignement (PKM) pour chaque matière qu'il favorise sous la forme de rapports quotidiens d'évaluation des activités d'enseignement (EKMS) et de rapports complets d'évaluation des activités d'enseignement (EKML); 4) évaluation des résultats de l'examen de mi-semestre (UTS); 5) évaluation des résultats de l'examen final du semestre (UAS); et 6) évaluation des résultats des travaux scientifiques/écrits.
Dans le programme PGMKSBM, le personnel enseignant est appelé conférencier invité. Les conférenciers visitent régulièrement, selon un horaire prédéterminé, donnant des conférences en face à face dans un lieu prédéterminé. Pour gérer les activités d'apprentissage, deux équipes de gestion ont été formées, appelées groupes de travail. Les deux groupes de travail sont : 1) le groupe de travail du consortium (K3) centré au centre de recherche et de développement de l'UNS/UNS FKIP ; et 2) Groupes de travail régionaux (K2D). K2D est disponible dans chaque Régence/Municipalité. Ainsi, dans la province de Banten, il existe trois groupes de travail régionaux, à savoir : 1) les groupes de travail régionaux de Serang Regency ; 2) Groupe de travail régional de la régence de Lebak ; et 3) Groupe de travail régional de Pandeglang Regency. Les deux groupes de travail, K3 et K2D, ont été nommés directement par le chancelier de l'UNS par décret du recteur.
Les outils de gestion du PGMKSBM peuvent être regroupés en six groupes, à savoir : 1) programme d'enseignement pour les programmes D2 et D3 ; 2) des lignes directrices pour la préparation de matériel pédagogique ou de trousses d'apprentissage; 3) directives générales d'apprentissage (PUP); 4) la structure organisationnelle de K3 et K2D et leurs devoirs et pouvoirs ; 5) le mécanisme de travail de K3 et K2D ; et 6) outils d'administration académique et pédagogique.

b. Processus d'apprentissage
Le processus d'apprentissage PGMKSBM peut être regroupé en trois activités : 1) auto-apprentissage individuel ; 2) auto-apprentissage en groupe; 3) conférences en face à face ; et 4) programme d'amélioration des compétences pédagogiques et de l'expérience pratique sur le terrain (PKM/PPL).
En auto-apprentissage individuel, après avoir étudié un programme d'apprentissage d'un semestre sous la forme d'un guide d'apprentissage général (PUP), les participants élaborent un programme d'activités d'apprentissage individuel. Après cela, selon le programme d'activités d'apprentissage individuel qu'il avait élaboré, les participants ont étudié la trousse d'apprentissage. Le module d'apprentissage se compose de deux livres, à savoir : 1) le livre 1, qui est un livre de matériel (BM) ; et 2) le livre 2, qui est un cahier d'affectation (BT). Tout d'abord, les participants ont étudié le livre 1 (livre de matériel) et les exercices. Après cela, les participants ont effectué les tâches individuelles du livre 2 (livre de devoirs). Les participants font ensuite une récapitulation des résultats du travail sur des tâches d'étude indépendantes individuellement en utilisant le format Learning Outcomes Report 1 (LHP1). Enfin, les participants récupèrent régulièrement le LHP1 selon le planning. Les résultats de l'analyse des données du questionnaire, comme le montre le tableau 10 à la page 103, il est clair que la plupart des participants (46,3%) font l'auto-apprentissage individuellement une fois par semaine. L'autre petite partie (15,7%), il ya ceux qui font des études indépendantes individuellement deux fois par semaine. Cependant, il y avait aussi des participants (38%) qui n'ont même pas étudié de manière indépendante en une semaine. Ils sont susceptibles d'apprendre uniquement lors de discussions de groupe ou de conférences en face à face.
Dalam belajar mandiri secara kelompok, setelah mempelajari buku Panduan Umum Pembelajaran, peserta secara kelompok membuat program kegiatan belajar kelompok. Kemudian, sesuai dengan jadwal kegiatan belajar kelompok, peserta dalam kelompok masing-masing melakukan diskusi kelompok. Kemudian secara berkala, peserta membuat laporan kegiatan belajar kelompok tersebut dengan menggunakan format Laporan Hasil Pembelajaran 2 (LHP2). Berdasarkan data hasil analisis terhadap kuesioner seperti terlihat dalam tabel 11 halaman 104, terlihat jelas bahwa sebagian besar peserta (51,9%) melakukan diskusi kelompok sebanyak dua kali dalam sebulan, sisanya (48,1%) melakukannya satu kali dalam sebulan. Sementara itu, dari sisi tingkat kehadiran, sebagian besar peserta (39,8%) menyatakan bahwa tingkat kehadiran mereka dalam diskusi kelompok adalah 50% hadir. 33,3% menyatakan bahwa tingkat kehadirannya adalah 75%. 20,4% peserta lainnya menyatakan bahwa tingkat kehadirannya adalah dibawah 50%. Hanya 6,5% saja dari peserta yang menyakan tingkat kehadirannya dalam diskusi kelompok sebesar 100%. Dari sisi, partisipasi aktif peserta ketika melakukan diskusi kelompok, 48,15% dari peserta menyatakan 75% aktif. 38,89% menyatakan 50% aktif. Sebagian kecil yang lainnya (12,96%) menyatakan dibawah 50% aktif. Data ini menggambarkan bahwa motivasi peserta untuk belajar mandiri secara kelompok dapat dikatakan rendah. Di samping itu, seperti terlihat dalam tabel 12 halaman 105, peserta justeru lebih banyak mengerjakan tugas individu dan tugas kelompok dibandingkan dengan mendiskusikan masalah-masalah mengajar dan mencari solusinya (problem solving).
Kuliah tatap muka dilakukan dua kali dalam sebulan oleh dosen kunjung. Pada dasarnya kuliah tatap muka ditujukan untuk mendiskusikan (tanya jawab) tentang materi yang sulit. Namun, dalam pelaksanaannya, nampaknya kuliah tatap muka masih dijadikan sebagai tumpuan. Artinya, peserta menganggap belajar justeru terjadi pada saat kuliah tatap muka tersebut. Masalah kemandirian belajar seperti ini nampaknya yang masih menjadi sisi lemah atau faktor penghambat keberhasilan PGMKSBM.
Disamping itu, PGMKSBM juga menerapkan strategi lain untuk memastikan kualitas proses pembelajaran yang dinamakan Program Peningkatan Kemampuan Mengajar dan Praktek Pengalaman Lapangan (PKM/PPL). Program PKM/PPL dikelompokkan kedalam dua jenis kegiatan: 1) Evaluasi Kegiatan Mengajar Sehari-hari (EKMS); dan 2) Pelaksanaan Kegiatan Mengajar secara Lengkap (PKML). Pelaksanaan EKMS bertujuan agar para peserta dapat mengevaluasi pelaksanaan kegiatan mengajarnya sehari-hari dan memperbaiki proses pembelajarannya tersebut. Langkah-langkah yang harus dilakukan peserta adalah: 1) setiap sebulan sekali, peserta melakukan evaluasi terhadap salah satu peristiwa pembelajaran (2 jam pembelajaran) yang ia lakukan; 2) peserta mengisi format EKMS1 yang berisikan data tentang identitas peserta, waktu kegiatan mengajar dan pokok/sub pokok bahasan yang dievaluasi; 3) peserta membuat laporan hasil evaluasi dengan menggunakan format EKMS2; dan 4) dengan menggunakan format EKMS3, peserta menentukan nilai terhadap hasil evaluasi kegiatan mengajar sehari-harinya tersebut.
Pelaksanaan kegiatan mengajar lengkap (PKML) dilakukan 3 bulan sekali. Tujuannya adalah agar peserta dapat megaplikasikan langsung antara teori yang diperolehnya dalm kelompok mata kuliah dasar kekhususan dan proses belajar mengajar (MKDK/PBM) dengan praktek mengajar di lapangan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1) peserta melakukan kegiatan mengajar secara utuh yang dimulai dari penyiapan rancangan stratedi pembelajaran / rancangan pembelajaran (RSP/RP); 2) bersama teman sejawat mendiskusikan/mengkaji setiap kompnen dari RSP/RP tersebut; 3) peserta menerapkan rancangan tersebut dalam kelas; 4) dengan menggunakan format PKML, pelaksanaan mengajar peserta tersebut di observasi/dievaluasi oleh teman sejawat dan atau kepala sekolah; dan 5) diakhiri dengan membuat laporan PKML.



3. Keberhasilan PGMKSBM di Propinsi Banten
Keberhasilan PGMKSBM di Propinsi Banten dapat dilihat dari berbagai segi: 1) kuantitas lulusan; 2); peningkatan penguasaan materi 3) peningkatan kinerja peserta; dan 4) peningkatan hasil belajar siswa.
sebuah. Kuantitas Lulusan
Seperti ditunjukkan dalam tabel 13, 14 dan 15 halaman 109, terlihat bahwa program D2 PGMKSBM telah meluluskan 590 peserta (92,2%) dari total peserta sebanyak 640 orang. Sedangkan untuk program D3 telah meluluskan 329 (94,54%) dari 348 peserta secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kelulusan program PGMKSBM di Propinsi Banten dapat dikatakan tinggi. Sementara itu, prosentase kelulusan tertinggi terjadi pada program studi D3 IPA. Prosentase kelulusan terendah terjadi pada program studi D3 Bahasa Inggris.
Jika dilihat dari statistik Departemen Agama Kabupaten Pandeglang, jumlah guru MI dan MTs yang telah memenuhi kualifikasi D3 dan atau D2 sebelum adanya program PGMKSBM adalah 11%. Setelah adanya program PGMKSBm meningkat menjadi 44%. Jadi kebutuhan akan guru MI dan MTs yang berkualifikasi D2 Kabupaten Pandeglang telah mengalami peningkatan sebesar 23%. Sementara itu, untuk guru MTs yang berkualifikasi D3 telah meningkat sebesar 10,15% dari sebelumnya yang hanya sebesar 8%.


b. Peningkatan Penguasaan Materi
Seperti ditunjukkan dalam tabel Tabel 16 halaman 110, terlihat bahwa peningkatan penguasaan materi bervariasi antara 18,15% sampai dengan 35,50. Secara kumulatif, rata-rata penguasaan materi peserta sebelum mengikuti PGMKSBM adalah 46,70%. Setelah mengikuti PGMKSBM meningkat 25,99% menjadi 72,69%.

Untuk program studi D2, rata-rata penguasaan materi sebelum PGMKSBM sebesar 53,33%. Setelah mengikuti PGMKSBM, rata-rata penguasaan materi meningkat 22,47% menjadi 75,80%. Secara lebih rinci, penguasaan materi untuk mata kuliah kependidikan atau proses belajar mengajar meningkat 18,90%. Untuk mata kuliah kelompok bidang studi sosial dan bahasa meningkat 27% dan untuk mata kuliah kelompok bidang studi eksakta/MIPA meningkat 21,50%.
Untuk program studi D3 IPA, rata-rata penguasaan materi sebelum PGMKSBM sebesar 39%. Setelah mengikuti PGMKSBM rata-rata penguasaan materi meningkat 30,77% menjadi 69,77%. Sementara itu, Penguasaan materi untuk mata kuliah kependidikan atau proses belajar mengajar meningkat 21,50%. Untuk mata kuliah kelompok bidang studi Biologi meningkat 35,30% dan untuk mata kuliah bidang studi Fisika meningkat 35,50%.
c. Peningkatan Kinerja
Berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan oleh pihak UNS terhadap Kepala Sekolah (N = 100), 93% menyatakan bahwa pendidikan yang ditempuh dengan program PGMKSBM berpengaruh positif terhadap kinerja guru, 13 % menyatakan kadang-kadang mengganggu kegiatan sekolah, dan 89% menyatakan meningkatkan kemampuan mengajar.
Berdasarkan data hasil analisis terhadap kuesioner seperti terlihat dalam tabel 17 halaman 112, menunjukkan bahwa manfaat program PGMKSBM terhadap pekerjaan guru di lapangan secara berturut-turut adalah: 1) peningkatan dalam penguasaan akan materi mengajar; 2) peningkatan dalam penguasaan metodologi mengajar; 3) perubahan dalam cara/kebiasaan mengajar; 3) peningkatan dalam disiplin kerja; 4) peningkatan dalam kebiasaan berdiskusi.memcahkan masalah mengajar; 5) keterbukaan dalam berpikir dan menerima pendapat orang; dan 6) peningkatan dalam kebiasaan membaca.
d. Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan hasil EBTA/EBTANAS yang dicapai oleh sekolah yang gurunya mengikuti program PGMKSBM menunjukkan adanya pengaruh terhadap peningkatan nilai rata-rata EBTA/EBTANAS dari tahun ke tahun. Dari tahun 1996 (sebelum PGMKSBM) sampai dengan tahun 2000 (ketika PGMKSBM), Madrasah Ibtidaiyah mengalami rata-rata peningkatan nilai EBTANAS sebesar 1,83. sedangkan untuk Madrasah Tsanawiyah mengalami rata-rata peningkatan sebesar 1,01.



4. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan PGMKSBM di Propinsi Banten

sebuah. Faktor-Faktor Pendukung
Seperti ditunjukkan dalam tabel 18 halaman 114, terlihat jelas bahwa faktor utama pendukung keberhasilan PGMKSBM di Propinsi Banten adalah karakteristik dari inovasi PGMKSBM itu sendiri, yang meliputi: 1) PGMKSBM relatif lebih unggul dibandingkan dengan pola pendidikan konvensional; 2) PGMKSBM sesuai dengan kondisi (compatible) dan kebutuhan guru di lingkungan Departemen Agama wilayah Banten; dan 3) pola belajar melalui PGMKSBM cukup luwes (flexible), peserta dapat belajar mandiri secara individu maupun keompok sesuai dengan kondisi yang dihadapinya kapan saja dan dimana saja.
Kedua, adalah adanya dukungan dana dan kebijakan. Departemen Agama pada saat itu memperoleh bantuan dana pinjaman dari Bank Dunia dan mengeluarkan kebijakan kerjasama penyelenggaran program penyetaraan guru sehingga PGMKSBM tersebut dapat terselenggara dan peserta mengikutinya tanpa dipungut biaya. Terakhir adalah adanya dukungan pengalaman dari penyelenggara. PGMKSBM dikelola oleh institusi pengembang pendidikan dengan sistem belajar mandiri, yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Belajar Mandiri (PUSLITBANGJARI) Universitas Sebelas Maret. Puslitbangjari UNS adalah satu-satunya institusi yang khusus meneliti dan mengembangkan penerapan sistem belajar mandiri di Indonesia.
b. Faktor Penghambat
Ada beberapa faktor penghambat keberhasilan penyelenggaraan PGMKSBM di Propinsi Banten. Seperti ditunjukkan dalam tabel 19 halaman 116, dapat diidentifikasi bahwa faktor-faktor penghambat penyelenggaraan PGMKSBM di Propinsi Banten meliputi: (1) rendahnya motivasi belajar (kesiapan belajar mandiri); (2) jarak dan biaya transportasi untuk pergi dan pulang dari dan ke lokasi diskusi kelompok dan kuliah tatap muka; (3) ketidak sesuaian latar belakang pendidikan dan mata pelajaran yang diampu dengan program studi yang diikuti; (4) rendahnya kualitas bahan belajar; dan (5) pengelolaan PGMKSBM secara keseluruhan.
Rendahnya frekuensi dan partisipasi aktif peserta dalam aktifitas belajarRendahnya motivasi belajar ditunj mandiri dan kuliah tatap muka menunjukkan lemahnya motivasi belajar atau kesiapan belajar mandiri peserta. Peserta, nampaknya hanya mengandalkan kuliah tatap muka sebagai satu-satunya waktu belajar. Seperti ditunjukkan dalam tabel 20 halaman 118, terlihat bahwa sebagaian besar responden (50%) menyatakan bahwa dalam seminggu masih ada mahasiswa yang tidak mempelajari buku paket sama sekali dan 39% responden lainnya menyatakan mahasiswa mempelajarinya satu kali dalam seminggu. Hanya 9% responden yang menyatakan mahasiswa mempelajari buku paket dua kali dalam seminggu. Begitu pula halnya dengan pengerjaan tugas dan latihan yang ada dalam buku paket. Sebagian besar dari responden (48%) menyatakan bahwa masih ada yang tidak mengerjakan tugas sekalipun dalam seminggu. 47%, responden lainnya menyatakan bahwa mahasiswa mengerjakan tugas satu kali dalam seminggu. Sementara, 5% responden lainnya menyatakan bahwa mahasiswa mengerjakan tugas dua kali dalam seminggu.
Fenomena yang sama terjadi juga pada belajar mandiri secara kelompok (diskusi kelompok). Sebagian besar dari responden (71,3%) menyatakan bahwa prosentase kehadiran mahasiswa dalam diskusi kelompok adalah 50%. Bahkan, 14,8% responden lainnya menyatakan bahwa prosentase kehadiran mahasiswa dalam diskusi kelompok adalah dibawah 50%. Hanya 13,9% responden yang menyatakan prosentase kehadiran mahasiswa dalam diskusi kelompok sebesar 75%. Begitu pula halnya dengan tingkat partisipasi aktif dalam diskusi kelompok. Sebagaian besar dari responden (71,3%) menyatakan bahwa tingka partisipasi aktif mahasiswa dalam diskusi kelompok adalah 25%. Sementara, 26,9% responden lainnya menyatakan 50% dan 1,85% lainnya menyatakan 75%.
Masalah yang sama terjadi pula dalam kuliah tatap muka. Sebagian besar responden (64,8%) menyatakan bahwa prosentase kehadiran mahasiswa dalam kuliah tatap muka adalah 50%. Bahkan, 19,5% responden menyatakan prosentase kahadiran mahasiswa dalam kuliah tatap muka dibawah 50%. Hanya sebagian kecil lainnya, (15,7%) yang menyatakan prosentase kehadiran dalam kuliah tatap muka sebesar 75%. Begitu pula halnya dengan tingkat keaktifan dalam kuliah tatap muka. Sebagian besar responden (48,7%) menyatakan tingkat keaktifan dalam kuliah tatap muka dibawah 25%. 37% responden lainnya menyatakan tingkat keaktifan dalam kuliah tatap muka sebesar 25%. Hanya sebagian kecil responden (1,64%) yang menyatakan tingkat keaktifan mahasiswa dalam kuliah tatap muka sebesar 75%.
Faktor berikutnya yang merupakan penghambat keberhasilan penyelenggaraan PGMKSBM di Propinsi Banten adalah faktor jarak dan biaya transportasi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam PGMKSBM peserta diharuskan melakukan kegiatan belajar mandiri secara kelompok dan tatap muka. Untuk melakukan hal ini, peserta perlu menempuh jarak dan biaya transportasi tertentu. Padahal kebanyakan dari peserta berstatus sebagai pegawai honorer dengan gaji yang kurang layak.
Tabel 21 halaman 120 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (51,8%) menyatakan jarak dari tempat tinggal ke lokasi diskusi kelompok antara 10 – 20 kilo meter. Sementara itu, sebagain besar responden (38,9%) menyatakan jarak dari tempat tempat tinggal ke lokasi kuliah tatap muka antara 20 – 30 kilo meter. Faktor jarak ini berpengaruh pula terhadap biaya transportasi yang harus ditanggung mahasiswa untuk diskusi kelompok dan kuliah tatap muka. Sebagian besar responden (44,6%) menyatakan bahwa mahasiswa menghabiskan uang sebesar antara Rp. 10.000,- s/d Rp. 20.000,- untuk pulang dan pergi dari dan ke lokasi diskusi kelompok. Sedangkan untuk pulang dan pergi dari dan ke lokasi kuliah tatap muka, sebagain besar responden (47,7%) menyatakan menghabiskan uang sebesar anatara Rp. 20.000,- s/d 30.000,- . Jik dalam sebulan mahasiswa dua kali pergi ke lokasi kuliah tatap muka dan diskusi kelompok, maka sebagian besar mahasiswa akan menghabiskan uang antara Rp. 60.000,- s/d Rp.100.000,-. Sebagian besar mahasiswa adalah guru yang berstatus honorer dengan gaji rata-rata sekitar Rp. 300.000,- per bulan. Jadi, faktor ekonomi merupakan salah satu faktor penghambat yang cukup signifikan.
Faktor penghambat berikutnya adalah ketidak sesuaian antara latar belakang pendidikan dan mata pelajaran yang diampu dengan program studi yang diambil. Tabel 22 halaman 122 menjelaskan bahwa 1) tidak sesuainya latar belakang pendidikan dengan program studi yang diambil; dan 2) tidak sesuainya mata pelajaran yang diampu dengan program studi yang di ambil merupakan salah satu faktor penghambat. Pernyataan ini juga diperkuat oleh data yang diperoleh dari hasil kuesioner seperti terlihat dalam tabel 23 halaman 123 yang menunjukkan bahwa masih ada sebagian mahasiswa (sekitar 38%) yang mengikuti program studi yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang sedang diampunya.
Faktor penghambat selanjutnya adalah rendahnya kualitas bahan belajar yang tidak sesuai untuk sistem belajar mandiri. Hasil wawancara (lihat tabel 24 halaman 123) menunjukkan bahwa mahasiswa merasakan kesulitan dalam mempelajari bahan belajar yang disebabkan karena 1) materi terlalu teoretis; 2) terlalu singkat (seperti ringkasan); 3) sulit dipraktekkan; dan 4) hanya menjelaskan teori (what is), bukan cara mengajarkannya (how to) kepada siswa. Hasil analisis terhadap beberapa buku paket juga menunjukkan bahwa dari sisi komponen bahan belajar mandiri, buku paket yang digunakan PGMKSBM kurang memenuhi syarat sebagai bahan belajar mandiri. Dari 19 sampel buku yang berhasil di analisis, 9 diantaranya tidak mencantumkan tujuan pembelajaran, 5 diantaranya tidak memberikan contoh atau ilustrasi, 12 diantaranya tidak mencantumkan latihan dan 9 diantaranya tidak mencantumkan tugas. Satu-satunya syarat yang dipenuhi oleh ke-19 buku paket yang dianalisis tersebut adalah adanya uraian materi.
Faktor penghambat terakhir (seperti ditunjukkan oleh tabel 27 hlaman 126) adalah lemahnya pengelolaan yang disebabkan oleh: 1) tidak adanya tenaga pengelola yang secara khusus terlatih untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan pendidikan dengan sistem belajar mandiri; 2) lemahnya koordinasi/komunikasi antara pengelola pusat dengan daerah; 3) lemahnya sistem/mekanisme pendistribusian tugas ke pusat; 4) sulitnya komunikasi dengan tutor/dosen kunjung sehingga menyebabkan lemahnya interaksi (umpan balik tertunda); dan 5) lemahnya sistem seleksi masuk.


Kesimpulan
Pendidikan Guru Model Kualifikasi dengan Sistem Belajar Mandiri adalah suatu program pendidikan dalam jabatan (in-service training) yang bertujuan untuk meningkatkan kualifikasi guru (D2 dan D3), bagi guru yang sedang berstatus aktif mengajar tapi belum memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan dengan tanpa harus meninggalkan pekerjaanya. PGMKSBM memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) PGMKSBM bukan program prajabatan (pre-service training) tapi program dalam jabatan (in-service training); 2) PGMKSBM tidak menitikberatkan pada tatap muka, tapi pada sistem belajar mandiri dalam bentuk tugas-tugas yang diintegrasikan dengan tugas keseharian mengajar di sekolah; 3) PGMKSBM menerapkan pendekatan ”collaborative action research” yaitu mensinergikan antara teori ke dalam praktek mengajar sehari-hari; 4) sumber penilaian diperoleh tidak hanya dari ujian tengah dan akhir semester, tapi juga dari portfolio dalam bentuk laporan mingguan dan bulanan; dan 5) teman sejawat dan kepala sekolah menjadi salah satu sumber dan sekaligus sebagai mitra belajar.
PGMKSBM diselenggarakan atas dasar adanya kebutuhan pemerintah untuk meningkatkan kualifikasi guru yang sedang dalam status mengajar tapi belum memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan. PGMKSBM adalah salah satu alternatif upaya meningkatkan kualifikasi guru tersebut melalui penerapan sistem belajar mandiri sehingga para guru tersebut dapat menyelesaikan program pendidikan tanpa harus meninggalkan tugas mengajar sehari-hari.
Ketercapaian tujuan PGMKSBM dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut: (1) jumlah lulusan; (2) peningkatan penguasaan materi; (3) peningkatan kinerja di sekolah; (4) peningkatan hasil belajar siswa.
Proses difusi inovasi PGMKSBM dapat dilihat dari berbagai aspek sebagai beirkut: (1) ditinjau dari sisi saluran komunikasi, difusi PGMKSBM paling banyak terjadi melalui saluran komuniksi antar pribadi, yaitu melalui kunjungan, pertemuan/rapat, seminar dan lokakarya; (2) dilihat dari asepk sistem sosial, difusi PGMKSBM terjadi pada tingkat organisasi (lembaga). Organisasi yang terlibat dalam proses difusi PGMKSBM tersebut meliputi: (1) Universitas Negeri Sebelas Maret berikut jajaran didalamnya; (2) Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis Bandung; (3) Direktorat Guru dan Tenaga Teknis (Dikgutentis); 4) Kanwil Departemen Agama Jawa Barat; 5) Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah; 6) Balai Penataran Guru se-Indonesia; 7) Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan 8) Lembaga Pendidikan Tinggi dan Kejuruan (LPTK) se-Indonesia; (3) ditinjau dari aspek waktu, pe

Comments

Popular posts from this blog

BEBERAPA CATATAN TENTANG PEMBELAJARAN AKUNTANSI PENGANTAR

E-Learning VS I-Learning

SILABUS PERKULIAHAN; PENGANTAR KOMUNIKASI PENDIDIKAN