KARAKTERISTIK DAN TUNTUTAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN

babi
UTAMA

Perkembangan dunia pembelajaran memasuki era yang ditandai dengan inovasi teknologi yang terus menerus, yang menuntut adanya adaptasi sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia untuk mewujudkan seluruh potensinya dalam keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hari Sudrajat (2003) mengemukakan bahwa “Tempat proses pendidikan, baik akademik maupun vokasional, adalah dunia kerja, baik di sektor formal maupun informal”.
Tingkat keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya manusia sebagai sumber daya bangsa untuk memperluas dan memaksimalkan pembangunan semua sumber daya manusia yang dimilikinya. Upaya tersebut dapat dilaksanakan dan dilanjutkan melalui pendidikan, baik formal maupun informal. Menciptakan kursus formal yang mempersiapkan lulusannya untuk keunggulan di dunia kerja, khususnya melalui pelatihan kejuruan.
Pendidikan vokasi yang berkembang di Indonesia meliputi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan dapat mengembangkan jabatan profesional di bidang profesional. Lulusan SMK diharapkan menjadi individu yang produktif yang dapat bekerja sebagai pekerja kelas menengah dan bersedia bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Kehadiran SMK kini semakin diminati masyarakat. Terutama orang-orang yang terlibat langsung dalam dunia kerja. Perhatikan bahwa lulusan VET memenuhi syarat sebagai (calon) pekerja dengan keterampilan profesional tertentu, tergantung pada bidang keahlian mereka.
Uraian mutu pendidikan tinggi kejuruan diambil dari Finch dan Crunkilton (1979), yang: “Kualitas pendidikan kejuruan menggunakan skala ganda, yaitu mutu berdasarkan ukuran sekolah atau standar prestasi sekolah dan mutu berdasarkan ukuran sekolah. atau penampilan masyarakat kriteria keberhasilan sekolah Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikulum yang menjawab tuntutan dunia kerja, sedangkan kriteria kedua meliputi keberhasilan siswa yang menunjukkan kemampuan berprestasi sesuai dengan standar kompetensi nasional atau internasional ketika dalam kondisi area kerja saat ini.
Upaya pencapaian kualitas lulusan pelatihan profesional yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja harus didasarkan pada kurikulum yang dirancang dan dikembangkan sesuai dengan prinsip keterkaitan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan. Program pelatihan profesional secara khusus dicirikan oleh sifat yang mengarah pada pembentukan keterampilan pascasarjana terkait dengan pelaksanaan tugas profesional tertentu. Keterampilan tersebut dikuasai dalam program SMK, yang meliputi kelompok regulatif, adaptif dan produktif.
Pengembangan kurikulum adalah proses dari memikirkan ide-ide kurikulum hingga bagaimana mereka diimplementasikan di sekolah. Hasan (1988) menemukan bahwa aspek prosedur pengembangan kurikulum adalah aspek kegiatan kurikulum yang terdiri dari empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu (1) kurikulum sebagai ide atau rancangan, (2) kurikulum sebagai rencana tertulis. , (3) kurikulum sebagai kegiatan (proses), dan (4) program sebagai hasil belajar.
Kurikulum yang saat ini digunakan di SMK khususnya untuk kelompok manufaktur masih menggunakan kurikulum 2004, sedangkan kelompok normatif dan adaptif menggunakan Model Manajemen Kurikulum Tingkat Satuan (KTSP). Yang dapat meningkatkan prestasi siswa karena tidak. Berhasil atau tidaknya program tersebut sangat bergantung pada kinerja dan sentuhan kreatif guru sebagai ujung besi pelaksanaan program.
pendidikan dan pelatihan KMS; Program-program yang efektif khususnya yang berbasis pada bidang keahlian idealnya memerlukan pendekatan pendidikan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam memperoleh keterampilan atau keterampilan kerja sesuai dengan kebutuhan bisnis dan industri. Pendekatan pengajaran terdiri dari: Dengan menggunakan pendekatan pengajaran ini, tujuannya adalah agar siswa memperoleh semua keterampilan yang harus dikuasai sesuai dengan standar nasional, sehingga mereka dapat menyelesaikan tes penempatan pada setiap akhir semester. . Tes bakat X dan XI dan kelas XII dipimpin oleh industri sebagai lembaga mitra.


















bab kedua
Fitur dan kebutuhan pengembangan pendidikan profesional


sebuah. Karakteristik pelatihan profesional
Pendidikan vokasi berbeda dengan satuan pendidikan lainnya. Perbedaan tersebut dapat ditelaah berdasarkan tujuan pendidikan, isi mata kuliah, persyaratan pendidikan, dan lulusan.
1. Tujuan pelatihan profesional
Pendidikan vokasi bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, budi pekerti, akhlak mulia, kemampuan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kurikulum vokasi. Tujuan pendidikan kejuruan berarti bahwa pendidikan kejuruan selain mempersiapkan tenaga kerja profesional, juga mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi berdasarkan program kejuruan atau bidang keahlian.
Berdasarkan tujuan diklat di atas, untuk memahami filosofi pelatihan vokasi perlu mempelajari dasar-dasar penyelenggaraan diklat sebagai berikut:
sebuah. asumsi siswa
Pelatihan kejuruan harus mempertimbangkan siswa sebagai individu yang selalu dalam proses pengembangan pribadi dan mewujudkan potensi penuh mereka. Perkembangan ini mengacu pada proses-proses yang terjadi pada diri siswa, seperti proses menjadi lebih dewasa, lebih pintar, lebih dewasa, yang meliputi proses perubahan karena pengaruh eksternal, termasuk perubahan profesi atau pekerjaan karena situasi sosial dan ekonomi. . kondisi. perkembangan siswa. masyarakat.
Pendidikan kejuruan adalah upaya untuk meningkatkan pengalaman belajar untuk membantu mereka tumbuh dan mengembangkan potensi mereka. Oleh karena itu, keunikan setiap individu dalam berinteraksi dengan dunia luar melalui pengalaman belajar merupakan upaya terpadu untuk mendukung proses pengembangan diri siswa secara optimal. Kebutuhan ini tercermin dalam pelatihan kejuruan “learning by doing”, suatu mata kuliah yang berorientasi pada dunia kerja.

B. Konteks sosial pembelajaran profesional
Tujuan dan isi pendidikan kejuruan selalu dibentuk oleh kebutuhan masyarakat yang berubah dengan cepat dan, pada saat yang sama, harus berperan aktif dalam membantu menentukan tingkat dan arah perubahan sosial di bidang profesional.
Pendidikan vokasi dikembangkan sesuai dengan perubahan kebutuhan masyarakat melalui dua lembaga sosial. Pertama, pranata sosial berupa struktur kerja, dengan pengorganisasian, pembagian atau tugas dan perilaku peran yang berkaitan dengan pilihan, perolehan dan penetapan suatu profesi. Lembaga sosial yang kedua adalah pendidikan, dengan fungsi ganda sebagai sarana pelestarian budaya dan sarana perubahan sosial.

vs. Dimensi ekonomi pendidikan profesional
Hubungan antara dimensi ekonomi dan pendidikan kejuruan secara konseptual dapat dijelaskan oleh kerangka investasi dan profitabilitas hasil pendidikan kejuruan. Ketika pendidikan kejuruan swasta dan negeri diterapkan, pendidikan kejuruan seharusnya memiliki dampak yang lebih besar terhadap investasi daripada pendidikan negeri. Apalagi hasil pendidikan kejuruan harus memiliki pengembalian yang lebih cepat dibandingkan pendidikan umum. Situasi ini dimungkinkan karena tujuan dan isi pelatihan profesional dirancang sesuai dengan perkembangan perusahaan, baik dalam fungsi jabatan maupun dalam pengembangan karir siswa.
Pendidikan vokasi merupakan upaya menjadikan peserta didik sebagai insan yang produktif, untuk menjalankan peran yang diperlukan terkait dengan peningkatan nilai tambah perekonomian masyarakat. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa lulusan pendidikan kejuruan harus memiliki nilai ekonomi yang lebih cepat daripada pendidikan umum.

Dott.. Pendidikan Kejuruan
Pendidikan vokasi harus memfokuskan upayanya pada komponen pendidikan dan pelatihan yang dapat mengembangkan potensi manusia secara optimal. Meskipun hubungan antara pendidikan kejuruan dan kebijakan ketenagakerjaan terutama didasarkan pada kepentingan ekonomi, namun harus selalu diingat bahwa hubungan antara pendidikan kejuruan tidak ditentukan hanya oleh kepentingan ekonomi.
Dalam konteks ini, ini berarti bahwa pendidikan kejuruan yang berkedok kepentingan ekonomi tidak boleh mengajarkan siswa keterampilan atau kemampuan tertentu untuk pekerjaan tertentu, karena posisi ini tidak menyangkut siswa secara keseluruhan. Mengembangkan keterampilan khusus dari semua staf mahasiswa berarti memiliki bekal yang sangat terbatas untuk masa depan mereka sebagai karyawan.

2. Halus
Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lebih berdedikasi kepada anak-anak yang ingin belajar keterampilan kejuruan. Setelah lulus, mereka berharap dapat segera memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan di bidang profesional atau akademik. Usia siswa sebagian besar 15/16 sampai 18/19 tahun atau siswa adalah remaja.
Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa ini biasanya terdapat masalah atau masalah yang berkaitan dengan aspek emosional, sosial, intelektual dan moral. Kondisi ini terjadi akibat perubahan fisik dan psikis yang sangat cepat sehingga mengganggu kestabilan kepribadian anak. Oleh karena itu, ketika merancang instruksi untuk anak kecil, mereka harus memperhatikan tugas perkembangan yang harus dilakukan remaja. Beberapa masalah perkembangan remaja dirangkum dalam Sukkamadinata (2001), yaitu:
sebuah. Mampu mengembangkan hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya dan ras lain. Belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, mampu melepaskan perasaan pribadi, dan mampu memimpin tanpa kezaliman.
B. Dapat memainkan peran sosial sebagai laki-laki dan perempuan. Mampu menghargai, menerima dan memenuhi peran sosial sebagai laki-laki dan perempuan dewasa.
vs. Menerima kondisi fisiknya dan mampu menggunakannya secara efektif. Remaja diharapkan sama-sama menghargai dan menerima kondisi tubuhnya sendiri, mampu menghargai atau menghormati kondisi tubuh orang lain, serta mampu menjaga dan melindungi kondisi tubuhnya sendiri.
Dokter menyukai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja diharapkan bebas dari ketergantungan karena anak orang tuanya dapat mencintai dan menghormati orang tuanya atau orang dewasa lainnya tanpa menjadi tergantung padanya.
Dan Anda pikir Anda hanya bisa berada di bidang ekonomi. Perasaan mencari nafkah meningkat terutama di kalangan anak laki-laki, kemudian secara bertahap di kalangan anak perempuan.
F. Mengetahui bagaimana memilih dan siap bertindak. Anak mampu membuat rencana karir dan memilih pekerjaan yang tepat dan dapat melakukan ini dan membuat persiapan yang tepat.
ini. Pelajari cara mempersiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga. Anda positif tentang kehidupan keluarga dan memiliki anak.
tidak. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual untuk hidup dalam masyarakat. Mengembangkan konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, dan pranata sosial yang relevan dengan kehidupan modern dan mengembangkan kemampuan berpikir dan berbahasa untuk dapat memecahkan masalah masyarakat modern.
I. Anda berperilaku sosial seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Ia dapat terlibat dengan rasa tanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
J. Dia memiliki seperangkat nilai yang memandu tindakannya. Anda sudah memiliki seperangkat nilai yang bisa diterapkan dalam hidup, ada kemauan dan usaha untuk mewujudkannya.

3. Hakikat pendidikan profesional
Mata pelajaran pendidikan profesi harus memiliki ciri-ciri pendidikan profesi, yang tercermin dalam aspek-aspek yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu:
sebuah. membimbing
Kurikulum kejuruan berorientasi pada proses dan hasil atau berorientasi pada kelulusan. Keberhasilan utama program pendidikan kejuruan diukur tidak hanya oleh kemajuan akademik siswa di sekolah, tetapi juga dari hasil kinerja profesional di dunia kerja. Finch dan Crunkilton (1984:12) menyarankan:

B. Kebenaran dasar / penalaran
Pengembangan program pendidikan profesional perlu alasan atau pembenaran yang jelas. Alasan diadakannya program pelatihan vokasi adalah kebutuhan nyata akan lapangan kerja di dunia kerja atau di dunia usaha dan industri. Menurut Finch dan Crinkleton (1984:12), dasar kebenaran/pembenaran pendidikan kejuruan terletak pada lingkungan sekolah dan masyarakat. Ketika program ini berpusat pada siswa, dukungan untuk program ini berasal dari kesempatan kerja yang tersedia bagi para lulusan.

versus fokus)
Tujuan pendidikan diklat tidak lepas dari pengembangan ilmu pengetahuan di bidang tertentu, tetapi sekaligus harus menyiapkan peserta didik yang efektif. Finch dan Crunkilton (1984: 13) menyarankan: Masing-masing aspek ini pada akhirnya menambah beberapa pekerjaan lulusan. Lingkungan belajar pendidikan kejuruan bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan tradisional, sikap dan nilai-nilai siswa serta mengintegrasikan dan menerapkan aspek-aspek tersebut dalam lingkungan kerja yang nyata.
Siswa dapat menguasai semua keterampilan di atas melalui pengalaman belajar yang diberikan, terutama berupa rangsangan yang diterapkan dalam situasi kerja yang disimulasikan melalui proses belajar mengajar di sekolah dan dalam situasi kerja. kerja nyata di perusahaan atau industri (belajar di dunia kerja) Melalui hasil belajar atau keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pribadi siswa sehingga dapat bertindak sesuai dengan kebutuhan bisnis dan industri.

Dott.. Kriteria Keberhasilan Akademik
Kriteria untuk menentukan keberhasilan sekolah kejuruan diukur dari keberhasilan siswa di sekolah dalam kaitannya dengan banyak aspek yang akan mereka hadapi. Penilaian prestasi siswa di sekolah harus didasarkan pada penilaian atau lembaga saat ini. Dengan kata lain, standar keberhasilan akademik harus erat kaitannya dengan keberhasilan profesional yang diharapkan, dengan standar yang digunakan oleh guru dalam kaitannya dengan standar atau prosedur kerja yang ditetapkan oleh dunia kerja (bisnis dan industri).

Kriteria keberhasilan ekstrakurikuler
Penentu keberhasilan tidak terbatas pada apa yang terjadi di lingkungan sekolah. Tingkat keberhasilan di luar sekolah berkaitan dengan kelayakan kerja atau kemampuan untuk bekerja, biasanya dalam bisnis atau industri. Menurut Starr (1975), meskipun tingkat keberhasilan bervariasi antara sekolah dan negara, keberhasilan ini sering mengambil bentuk kepuasan karyawan dengan keterampilan lulusan, dengan sebagian besar lulusan mencari pekerjaan di bidang persiapan atau terkait dan studi pascasarjana. Senang, kemajuan lulusan.
Misalnya, Tes Penempatan Kelas X dan XI untuk menentukan prestasi ekstrakurikuler di SMK, serta Tes Bakat Kelas XII yang dilakukan oleh dunia usaha atau industri berdasarkan standar kecakapan nasional di bidang yang diujikan.
Standar keberhasilan di luar sekolah diterapkan oleh dunia usaha dan industri, yang mengacu pada standar kompetensi berdasarkan keahlian atau output yang dihasilkan oleh masing-masing sektor:

.Hubungan sekolah-masyarakat
Upaya pendidikan harus berorientasi pada masyarakat, dan pendidikan profesional harus mengembangkan hubungan yang kuat dengan berbagai bidang keahlian di masyarakat:
Pengertian dunia usaha adalah dunia usaha dan dunia industri: Penyelenggaraan pendidikan kejuruan harus erat kaitannya dengan kebutuhan kerja di perusahaan atau industri, sehingga masalah hubungan antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha atau industri menjadi penting. fitur pendidikan kejuruan:
Mewujudkan hubungan dalam bentuk keinginan bisnis atau industri, dan menyambut mahasiswa untuk belajar dari pengalaman bisnis atau industri, merupakan bentuk kerjasama yang saling menguntungkan:

adalah. Intervensi pemerintah pusat (partisipasi federal)
Partisipasi pemerintah pusat terkait dengan dana pendidikan, yang akan dialokasikan karena mempengaruhi program sekolah: Misalnya. Penyediaan jam khusus dan jenis peralatan tertentu yang digunakan di bengkel atau laboratorium dapat membantu mengembangkan tingkat kualitas yang lebih tinggi:

h. kepekaan
Sangat setia pada orientasi konstan terhadap dunia kerja, pendidikan profesional harus bercirikan kepekaan atau kemampuan beradaptasi terhadap evolusi masyarakat dan terutama dunia kerja: Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi dan penemuan baru produksi dan di lapangan layanan. Untuk itu, pendidikan kejuruan harus secara aktif merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berupaya lebih memperhatikan kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas untuk memenuhi prospek karir jangka panjang siswa:

SAYA. logistik
Program pendidikan untuk menyelenggarakan program pendidikan harus dilengkapi dengan lembaga pendidikan yang sesuai, karena untuk menciptakan situasi pendidikan yang dapat mencerminkan situasi pendidikan yang sebenarnya di dunia kerja, banyak peralatan, fasilitas dan dukungan material dan teknis: еггра. Laboratorium dan laboratorium merupakan peralatan utama SMK, yang harus hadir sebagai sarana pengembangan keterampilan profesional siswa sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri:
Perlunya koordinasi program profesi di masyarakat bekerjasama dengan industri, yang erat kaitannya dengan penciptaan dan pemeliharaan pusat kerja mahasiswa, menunjukkan adanya keseragaman penataan masalah logistik:

. pengeluaran
Biaya saat ini seperti biaya pendidikan vokasi untuk menunjang kegiatan pembelajaran antara lain listrik, air, perawatan peralatan, biaya penggantian dan biaya transportasi ke tempat: / industri (praktik kerja/praktik) jauh dari sekolah: Selain itu, kebutuhan peralatan dimutakhirkan secara berkala, dan guru berharap untuk memberikan siswa pengalaman pelatihan industri yang nyata, yang bisa mahal: Hal lain yang juga harus dipertimbangkan adalah perolehan bahan habis pakai, seperti peralatan praktis, yang biasanya digunakan di setiap sekolah kejuruan, dikembangkan sesuai dengan program percobaan :
Dari uraian karakteristik pendidikan kejuruan yang dikemukakan oleh Finch dan Crunchylton (1984) di atas, dapat dijadikan acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan di Indonesia: Kurikulum pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia harus memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut.
1) Pendidikan vokasi bertujuan untuk mempersiapkan siswa memasuki pasar kerja
2) Pendidikan magister didasarkan pada kebutuhan dunia kerja
3) Muatan pendidikan vokasi menitikberatkan pada perolehan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan dunia kerja.
4) Penilaian nyata atas prestasi siswa harus "praktis" atau kinerja di tempat kerja
5) Hubungan yang erat dengan dunia kerja adalah kunci keberhasilan pendidikan profesional
6) Pendidikan vokasi merespon perkembangan teknologi dan mengantisipasinya
7) Penekanan lebih ditempatkan pada pendidikan profesional daripada «belajar melalui»
8) Pendidikan vokasi menuntut penggunaan peralatan modern sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

- Persyaratan pengembangan pendidikan kejuruan
Perkembangan teknologi juga memerlukan pengembangan pelatihan profesional, karena pada saat ini sistem kehidupan pada umumnya dan sistem ekonomi pada khususnya sedang mengalami pergeseran paradigma menuju tren global: Transformasi ini akan membuka peluang kerjasama yang lebih terbuka antar negara, dan di sisi lain , hal itu akan meningkatkan intensitas persaingan antar negara . Untuk meningkatkan daya saing perdagangan bebas, diperlukan sejumlah kekuatan kompetitif yang kuat, antara lain keterampilan manajemen, teknologi, dan sumber daya manusia: Sumber daya manusia merupakan sumber daya aktif yang dapat menentukan kelangsungan dan keberhasilan persaingan antar bangsa:
Pendidikan memegang peranan yang sangat strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi persaingan bebas: Termasuk pendidikan kejuruan yang mempersiapkan peserta didik atau sumber daya manusia yang dapat bekerja sebagai pekerja kelas menengah berdasarkan kebutuhan dunia usaha dan industri: Oleh karena itu, SMK Sesuai dengan persyaratan pengembangan pendidikan, maka ke depan perlu memperbaharui pendidikan dan pelatihan profesi di bidang pendidikan kejuruan.
1. Permintaan siswa
Pendidikan vokasi berperan dalam mempersiapkan peserta didik untuk bekerja, baik untuk bekerja secara mandiri (inknavar) maupun untuk mengisi lowongan yang ada: Liceo Professionale Sebagai salah satu lembaga penyiapan tenaga kerja, perlu mampu menghasilkan lulusan seperti yang diharapkan dalam dunia kerja. pekerjaan: Diperlukan Tenaga kerja terdiri dari sumber daya manusia yang kompeten sesuai bidang pekerjaannya, dengan daya adaptasi dan daya saing yang tinggi:
ائد اده ليم الوخری Hien لاحتيات لم الليل اس لفيرة العل ACC المه Ard. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah bentuk satuan pendidikan profesi sebagaimana ditegaskan dalam uraian pasal 15 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pendidikan menengah pertama kali peserta didik di tempat kerja.
tujuan:
SEBUAH. Ziadea man siswa إلى الله الى
HAI. -
saya. Regalizing
SAYA. لى الاهورتي البيئة, لاث ال اري
tujuan khusus:
SEBUAH. ,
HAI. ادا fightchi ouchiيكونو³ ادرين mischovis ان ان ابرين في ا,​​ و اا, لين لين ايه .
saya. membekali siswa dengan keterampilan dan pengetahuan
SAYA. membekali siswa dengan keterampilan sesuai program keterampilan.
(2004):

2. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
من նշանակում է حتي حتي حتي ا ا وإمكانية ا agon إ mischoys ا ا ا ا، هنا ث█ أبعاد رئيسية رئيسية عQUE ا تشكK تحديً█ تحديً█ لدمؤسسarchصغيرة ا و█، في اُطني.
أ. يجب أن يركز regalizing
Ø. يجب أن أن يعتمد ا ا ا AQUE نهج أكثر مرونة وفقً وفقًا ل ل ل ا و█ ا ا بحيث بحيث تتمتع ا ا ا ا ا ا يكتسبها اطQUE أثناء وبعد ا ا في ا ا ا ا بقدرى ا█ ا.
ì. يجب أن تكون برامج التعليم والتدريب موجهة بشكل كامل نحو إتقان التعلم (التعلم الشامل) من خلال إشراك الدور التشاركي النشط لأصحاب المصلحة في التعليم ، بما في ذلك تحسين دور الحكومات المحلية لصياغة خريطة للكفاءات العمالية في مناطقهم كمدخلات للمدارس المهنية في تنفيذ التعليم والتدريب المستدامين.
إيجإيجQI Haaster لQI ANDIHitحديQتحدي ا أع ANDCI, أن تكون تكون تكون تكون تكون تكون واحدة من ا ا ا ا تقدم ا و█ ا قادرة عدى تقديم أفضQUE aaa AQUE ا ل ا ا ل. من المعروف أن أكبر استثمار وتمويل հավասարեցում
- - كما ذكر Djojonegoro (1998), կամ. ٪ يعملون في الطبقات العليا.»:
لا يمكن إغلاق مؤسسة SMK إلا إذا كان لا يمكن الدفاع عنها قانونًا أو بسبب مطالب المجتمع التي لا يمكن الدفاع عنها أو تجنبها على الإطلاق. ولكن في الأساس ، لا يوجد سبب لإغلاق SMK طالما أن المؤسسة لا تزال قادرة على القيام بأدوارها ووظائفها ولا تتعارض مع القانون المعمول به.
الجهود المبذولة للحفاظ على المدارس المهنية التي يمكن أن تلبي متطلبات احتياجات المجتمع ، وفي هذه الحالة يجب أن تكون المدارس المهنية قادرة على القيام بأدوارها ووظائفها بشكل صحيح. عند القيام بهذه الأدوار والوظائف ، يحتاج التعليم والتدريب في المدارس المهنية إلى الاهتمام بمبادئ التعليم المهني التي اقترحها Prosser (Djojonegoro ، 1998) ؛ كالآتي :
أ. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا كانت البيئة التي يتدرب فيها الطلاب هي نسخة طبق الأصل من البيئة التي سيعملون فيها لاحقًا.
ب. لا يمكن توفير التعليم المهني الفعال إلا عندما يتم تنفيذ مهام التدريب بنفس الطريقة والأدوات والآلات كما هو موصوف في مكان العمل.
ج. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا قام بتدريب الشخص على عادات التفكير والعمل كما هو مطلوب في الوظيفة نفسها
د. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا تمكن كل فرد من الاستفادة من اهتماماته ومعارفه ومهاراته على أعلى مستوى.
ه. لا يمكن توفير التعليم المهني الفعال لأي مهنة أو منصب أو مهنة إلا لمن يحتاجها ويريدها ويستفيد منها.
F. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا تكررت تجربة التدريب لتكوين عادات العمل وعادات التفكير الصحيح بحيث تناسبها حسب الحاجة في الوظيفة لاحقًا.
ز. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا كان لدى المعلم خبرة ناجحة في تطبيق المهارات والمعرفة على العمليات وعمليات العمل التي يتعين القيام بها
ح. يوجد في كل منصب حد أدنى من القدرة يجب أن يمتلكه شخص ما حتى يظل قادرًا على العمل في هذا المنصب
أنا. يجب أن ينتبه التعليم المهني لطلب السوق (انتبه إلى علامات سوق العمل)
ي. سيتم تحقيق عملية بناء عادة فعالة لدى الطلاب إذا تم تقديم التدريب في عمل حقيقي
ك. مصدر موثوق لمعرفة محتوى التدريب في مهنة
ل. لكل مهنة مجموعة مختلفة من خصائص المحتوى
م. سيكون التعليم المهني خدمة اجتماعية فعالة إذا كان يلبي احتياجات الشخص الذي يحتاج إليه حقًا ويكون أكثر فاعلية إذا تم تنفيذه من خلال التدريس المهني.
ن. سيكون التعليم المهني فعالاً إذا كانت طرق التدريس المستخدمة والعلاقات الشخصية مع الطلاب تأخذ في الاعتبار خصائص هؤلاء الطلاب
ا. ستكون إدارة التعليم المهني فعالة إذا كانت مرنة وسلسة وليست جامدة وموحدة
ص. Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi.

3. Tuntutan pengelolaan pendidikan kejuruan
Tuntutan pengelolaan pada pendidikan kejuruan harus sesuai dengan kebijakan link and match, yaitu perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit menjadi pendidikan kejuruan sebagai program pengembangan sumber daya manusia. Dimensi pembaharuan yang diturunkan dari kebijakan link and match, yaitu :
a. Perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven
Dengan deman driven ini mengharapkan dunia usaha dan dunia industri atau dunia kerja lebih berperan di dalam menentukan, mendorong dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja. Dalam pelaksanaannya, dunia kerja ikut berperan serta karena proses pendidikan itu sendiri lebih dominan dalam menentukan kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun dunia kerja ikut menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan ukuran dunia kerja.
Sebagai salah satu bentuk penerapan prinsip demand driven, maka dalam pengembangan kurikulum SMK harus melakukan sinkronisasi kurikulum yng direalisasikan dalam program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dengan melakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan pembelajaran di SMK diupayakan sedekat mungkin dengan kebutuhan dan kondisi dunia kerja/industri, serta memiliki relevansi dan fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Melalui sinkronisasi kurikulum ini, diharapkan sekolah dapat membaca keahlian dan performansi apa yang dibutuhkan dunia usaha atau industri untuk dapat dimasuki oleh lulusan SMK.

b. Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda (Dual Based Program)

Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah, ke pendidikan berbasis ganda sesuai dengan kebijakan link and match, mengharapkan supaya program pendidikan kejuruan itu dilaksanakan di dua tempat. Sebagian program pendidikan dilaksanakan di sekolah, yaitu teori dan praktek dasar kejuruan, dan sebagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keterampilan produktif yang diperoleh melalui prinsip learning by doing. Pendidikan yang dilakukan melalui proses bekerja di dunia kerja akan memberikan pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dunia kerja yang tidak mungkin atau sulit didapat di sekolah, antara lain pembentukan wawasan mutu, wawasan keunggulan, wawasan pasar, wawasan nilai tambah, dan pembentukan etos kerja.

c. Perubahan dari model pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran berbasis kompetensi

Perubahan ke model pengajaran ke berbasis kompetensi, bermaksud menuntun proses pengajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi ini sekaligus memerlukan perubahan kemasan kurikulum kejuruan ke dalam kemasan berbentuk paket-paket kompetensi.

d. Perubahan dari program dasar yang sempit (Narrow Based) ke program dasar yang mendasar, kuat dan luas (Broad Based)

Kebijakan link and match menuntut adanya pembaharuan, mengarah kepada pembentukan dasar yang mendasar, kuat dan lebih luas. Sistem baru yang berwawasan sumberdaya manusia, berwawasan mutu dan keunggulan menganut prinsip, bahwa : tidak mungkin membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas dan yang memiliki keunggulan, kalau tidak diawali dengan pembentukan dasar yang kuat. Dalam rangka penguatan dasar ini, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar yang berfungsi untuk membentuk keunggulan, sekaligus beradaptasi terhadap perkembangan IPTEK, dengan memperkuat penguasaan matematika, IPA, Bahasa Inggris dan Komputer. Sistem baru ini harus memberi dasar yang lebih luas tetapi kuat dan mendasar, yang memungkinkan seseorang tamatan SMK memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap kemungkinan perubahan pekerjaan.

e. Perubahan dari sistem pendidikan formal yang kaku, ke sistem yang luwes dan menganut prinsip multy entry, multy exit

Dengan adanya perubahan dari supply driven ke demand driven, dari schools based program ke dual based program, dari model pengajaran mata pelajaran ke program berbasis kompetensi; diperlukan adanya keluwesan yang memungkinkan pelaksanaan praktek kerja industri dan pelaksanaan prinsip multy entry multy exit. Prinsip ini memungkinkan peserta didik SMK yang telah memiliki sejumlah satuan kemampuan tertentu (karena program pengajarannya berbasis kompetensi), mendapatkan kesempatan kerja di dunia kerja, maka peserta didik tersebut dimungkinkan meninggalkan sekolah. Dan kalau peserta didik tersebut ingin masuk sekolah kembali menyelesaikan program SMK nya, maka sekolah harus membuka diri menerimanya, dan bahkan menghargai dan mengakui keahlian yang diperoleh peserta didik yang bersangkutan dari pengalaman kerjanya. Di samping itu, sistem program berbasis ganda juga memerlukan pengaturan praktek kerja di industri sesuai dengan aturan kerja yang berlaku di industri yang tidak sama dengan aturan kalender belajar di sekolah.

f. Perubahan dari sistem yang tidak mengakui keahlian yang telah diperoleh sebelumnya, ke sistem yang mengakui keahlian yang diperoleh dari mana dan dengan cara apapun kompetensi itu diperoleh (Recognition of prior learning)

Sistem baru pendidikan kejuruan harus mampu memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Sistem ini akan memotivasi banyak orang yang sudah memiliki kompetensi tertentu, misalnya dari pengalaman kerja, berusaha mendapatkan pengakuan sebagai bekal untuk pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Untuk ini SMK perlu menyiapkan diri sehingga memiliki instrument dan kemampuan menguji kompetensi seseorang darimana dan dengan cara apapun kompetensi itu didapatkan.

g. Perubahan dari pemisahan antara pendidikan dengan pelatihan kejuruan, ke sistem baru yang mengintegrasikan pendidikan dan pelatihan kejuruan secara terpadu

Program baru pendidikan yang mengemas pendidikannya dalam bentuk paket-paket kompetensi kejuruan, akan memudahkan pengakuan dan penghargaan terhadap program pelatihan kejuruan dan program pendidikan kejuruan. Sistem baru ini memerlukan standarisasi kompetensi, dan kompetensi yang terstandar itu bisa dicapai melalui program pendidikan, program pelatihan atau bahkan dengan pengalaman kerja yang ditunjang dengan inisiatif belajar sendiri.

h. Perubahan dari sistem terminal ke sistem berkelanjutan
Sistem baru tetap mengharapkan dan mengutamakan tamatan SMK langsung bekerja, agar segera menjadi tenaga produktif, dapat memberi return atas investasi SMK. Sistem baru juga mengakui banyak tamatan SMK yang potensial, dan potensi keahlian kejuruannya akan lebih berkembang lagi setelah bekerja. Terhadap mereka ini diberi peluang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalnya program Diploma), melalui suatu proses artikulasi yang mengakui dan menghargai kompetensi yang diperoleh dari SMK dan dari pengalaman kerja sebelumnya.
Untuk mendapatkan sistem artikulasi yang efisien diperlukan “program antara” (bridging program) guna memantapkan kemampuan dasar tamatan SMK yang sudah berpengalaman kerja, supaya siap melanjutkan ke program pendidikan yang lebih tinggi.

i. Perubahan dari manajemen terpusat ke pola manajemen mandiri (prinsip desentralisasi)

Pola baru manajemen mandiri dimaksudkan memberi peluang kepada propinsi dan bahkan sekolah untuk menentukan kebijakan operasional, asal tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Kebijakan nasioanl dibatasi pada hal-hal yang bersifat strategis, supaya memberi peluang bagi para pelaksana di lapangan berimprovisasi dan melakukan inovasi. Proses pendewasaan SMK perlu ditekankan, untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekolah melakukan apa yang baik menurut sekolah, dengan prinsip akuntabilitas (accountability) yang secara taat azas memberikan penghargaan kepada mereka yang pantas dihargai, dan menindak mereka yang pantas ditindak.

j. Perubahan dari ketergantungan sepenuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, ke swadana dengan subsidi pemerintah pusat

Sejalan dengan prinsip demand driven, dual based program, pendewasaan manajemen sekolah, dan pengembangan unit produksi sekolah, sistem baru diharapkan dapat mendorong pertumbuhan swadana pada SMK, dan posisi lokasi dana dari pemerintah pusat bersifat membantu atau subsidi. Sistem ini juga diharapkan mampu mendorong SMK berpikir dan berperilaku ekonomis.












BAB III
MODEL KURIKULUM PENDIDIKAN KEJURUAN :
SMK PROGRAM KEAHLIAN TATA BUSANA


A. Dasar Pemikiran
1. Konsep dasar pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan umum. Perbedaan tersebut dapat dikaji dari kriteria pendidikan, substansi pelajaran dan lulusannya. Pendidikan kejuruan seyogianya memiliki kriteria sebagai berikut :
a. Orientasi pada kinerja individu dunia kerja
b. Jastifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan
c. Fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotor, afektif dan kognitif
d. Tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah
e. Kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja
f. Memerlukan saana dan prasarana yang memadai
g. Adanya dukungan masyarakat
(Disarikan dari Finch dan Crunkilton, 1984).
Substansi pelajaran pada pendidikan kejuruan menurut Nolker dan Shoenfel (Sonhadji, 2006) harus selalu mengikuti perkembangan IPTEK, kebutuhan masyarakat, kebutuhan individu, dan lapangan kerja. Lulusan dari pendidikan kejuruan, minimal harus memiliki kecakapan atau kemampuan kerja yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha atau industri yang dirumuskan dalam standar kompetensi nasional bidang keahlian.

2. Tinjauan filosofis
Landasan filosofis yang mendasari pendidikan kejuruan, harus mampu menjawab dua pertanyaan : 1) Apa yang harus diajarkan ? dan 2) Bagaimana harus mengajarkan ? (Calhoun dan Finch, 1982). Chalhoun dan Finch menegaskan bahwa sumber prinsip-prinsip fundamental pendidikan kejuruan adalah individu dan perannya dalam suatu masyarakat demokratik, serta peran pendidikan dalam transmisi standar sosial.
Secara filosofis, penyusunan kurikulum SMK perlu mempertimbangkan perkembangan psikologis peserta didik dan perkembangan atau kondisi sosial budaya masyarakat.
a. Perkembangan psikologis peserta didik
Manusia, secara umum mengalami perkembangan psikologis sesuai dengan pertambahan usia dan berbagai faktor lainnya; yaitu latar belakang pendidikan, ekonomi keluarga, dan lingkungan pergaulan, yang mengkibatkan perbedaan dalam dimensi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual. Pada kurun usia peserta didik di SMK, mereka memiliki kecenderungan untuk mencari identitas atau jati diri.
Fondasi kejiwaan yang kuat diperlukan peserta didik agar berani menghadapi, mampu beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah kehidupan, baik kehidupan profesional maupun kehidupan keseharian, yang selalu berubah bentuk dan jenisnya serta meningkatkan diri dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.

b. Kondisi sosial budaya
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan yang diterima dari lingkungan keluarga (informal), diserap dari masyarakat (nonformal), maupun yang diperoleh dari sekolah (formal) akan menyatu dalam diri peserta didik, menjadi satu kesatuan yang utuh, saling mengisi dan diharapkan dapat saling memperkaya secara positif.
Peserta didik SMK berasal dari anggota berbagai lingkungan msyarakat yang memiliki budaya, tata nilai, dan kondisi sosial yang berbeda. Pendidikan kejuruan mempertimbangkan kondisi sosial, maka segala upaya yang dilakukan harus selalu berpegang teguh pada keharmonisan hubungan antar sesama individu dalam masyarakat luas yang dilandasi dengan akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta keharmonisan antar sistem pendidikan dengan sosial budaya.





B. Kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana
1. Tujuan program keahlian Tata Busana
Tujuan program keahlian Tata Busana secara umum mengacu pada isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) pasal 3 mengenai tujuan pendidikan nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Secara spesifik tujuan program keahlian Tata Busana adalah membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan, dan sikap agar kompeten dalam :
a. Mengukur, membuat pola, menjahit dan menyelesaikan busana
b. Memilih bahan tekstil dan bahan pembantu secara tepat
c. Menggambar macam-macam busana sesuai kesempatan
d. Menghias busana sesuai desain
e. Mengelola usaha di bidang busana
(Disarikan dari Kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana, 2004).

2. Isi Kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana
Di dalam penyusunan kurikulum atau substansi pembelajaran SMK program kehalian Tata Busana; mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu : kelompok normatif, adaptif dan produktif.
Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang berfungsi membentuk peesrta didik menjadi pribadi yang utuh, pribadi yang memiliki norma-norma kehidupan sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial (anggota masyarakat), sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga nagara dunia. Dalam kelompok normatif, mata pelajaran dialokasikan secara tetap meliputi :
1) Pendidikan Agama
2) Pendidikan Kewarganegaraan
3) Bahasa Indonesia
4) Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
5) Seni Budaya.
Kelompok adaptif adalah mata pelajaran yang berfungsi membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran :
1) Bahasa Inggris
2) Matematika
3) IPA
4) IPS
5) Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi
6) Kewirausahaan.
Kelompok produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai Standar Kompetensi Nasional (SKN). Kelompok produktif program keahlian Tata Busana terdiri dari kompetensi :
1) Memberikan pelayanan prima
2) Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial
3) Mengikuti prosedur K3
4) Mengukut tubuh
5) Menggambar busana
6) Memilih/membeli bahan baku busana
7) Membuat pola busana teknik konstruksi
8) Melakukan pengepresan
9) Menjahit dengan mesin
10) Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan
11) Membuat hiasan busana
12) Melakukan penyelesaian akhir busana
13) Memelihara alat jahit
14) Memotong bahan
15) Membuat pola busana konstruksi di atas kain
16) Membuat pola busana teknik kombinasi
17) Membuat pola dasar teknik drapping
Dari kompetensi di atas, sebagai mata diklat pada kelompok produktif (Kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana, 2004), kemudian dirinci menjadi sub-sub kompetensi sebagai berikut :
Level Kualifikasi Kompetensi Sub Kompetensi
Operator jahit (penjahit) Memberikan layanan secara prima kepada pelanggan (Customer care) • Melakukan komunikasi di tempat kerja
• Memberikan bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal
• Menjaga standar prestasi personal
• Melakukan pekerjaan secara rutin
Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang beragam (Customer care) • Melakukan komunikasi dengan pelanggan dan kolega dari latar belakang yang berbeda
• Menangani kesalah fahaman antar budaya
Mengikuti prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan dalam bekerja • Mengikuti prosedur tempat kerja dan memberikan umpan balik tentang kesehatan, keselamatan dan keamanan
• Menangani situasi darurat
• Menjaga standar presentasi perorangan yang aman
Mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain (Pattern Making) • Menganalisis desain
• Menganalisis bentuk tubuh
• Mengukur
Menggambar busana (Fashion drawing) • Menyiapkan tempat kerja (meja, alat dan lain-lain
• Menggambar busana
• Menyelesaikan gambar busana
Memilih/membeli bahan baku busana sesuai desain (material) • Merencanakan persiapan dan waktu pemilihan/pembelian bahan baku
• Mengidentifikasi jenis bahan utama (fashion fabric)
• Mengidentifikasi jenis bahan pelapis
• Menentukan bahan pelengkap
• Menyusun rencana belanja
• Menyediakan bahan utama dan pelengkap
Membuat pola busana sesuai dengan teknik konstruksi (Pattern Making) • Menggambar pola dasar
• Mengubah pola dasar sesuai desain
• Memeriksa pola
• Menggunting pola
• Melakukan uji coba pola
• Menyimpan pola
Level Kualifikasi Kompetensi Sub Kompetensi
Operator jahit (penjahit) Melakukan pengepresan (pressing) • Menyiapkan tempat dan alat press
• Mengerjakan pengepresan
• Menyerahkan pekerjaan pengepresan
• Menerapkan praktik keselamatan dan kesehatan kerja
Menjahit dengan mesin (Sewing) • Menyiapkan tempat kerja dan alat
• Menyiapkan mesin jahit
• Mengoperasikan mesin jahit
• Menjahit bagian-bagian busana
Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan (Embroidery) • Menyiapkan tempat kerja dan alat
• Membuat desain hiasan busana
• Memindahkan desain hiasan pada busana/kain
• Mengemas busana/kain yang sudah dihias
• Menyimpan
Melakukan penyelesaian akhir busana (Finishing) • Menyeterika busana
• Mengemas busana
• Menyimpan
Memeliha

Comments

Popular posts from this blog

BEBERAPA CATATAN TENTANG PEMBELAJARAN AKUNTANSI PENGANTAR

E-Learning VS I-Learning

SILABUS PERKULIAHAN; PENGANTAR KOMUNIKASI PENDIDIKAN